PROFIL BPTU dan HPT DENPASR

LATAR BELAKANG

Pada pertengahan dekade 70-an, ada dua isu besar tentang sapi Bali. Pertama adalah turunnya populasi sapi Bali yang diakibatkan oleh pemotongan sapi betina produktif dan eksport sapi Bali yang tidak terkendali. Kedua adalah dampak ikutan dari terkurasnya sapi Bali tersebut sehingga menimbulkan penurunan mutu genetiknya, padahal sapi Bali sangat berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Berawal dari kondisi tersebut, pada tahun 1976, berdiri PROYEK PEMBIBITAN DAN PENGEMBANGAN SAPI BALI (P3 BALI), sesuai dengan SK Menteri Pertanian Nomor : 776/kpts/Um/12/1976. Tahun 1997, Pemerintah lewat Bank Rakyat Indonesia, menyalurkan kredit ternak sapi ke masyarakat sebagai upaya mendukung kegiatan P3 Bali, yang nantinya menjadi instalasi Populasi Dasar (IPD). Tahun 1986, dibangunlah Pusat Pembibitan Pulukan (Breeding Centre Pulukan) di Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, sebagai tempat uji seleksi Sapi Bali. Dan akhirnya pada awal tahun 2007, karena pertimbangan pentingnya melestarikan plasma nutfah potensial asli indonesia, maka P3 Bali resmi dijadikan BALAI PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL SAPI BALI sesuai SK Menteri Pertanian No.13/Permentan/OT.140/2/2007, dan kemudian diubah menjadi BALAI PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL DAN HIJAUAN PAKAN TERNAK DENPASAR sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 52/Permentan/OT.140/5/2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak.

SUSUNAN ORGANISASI